Kamis, 06 April 2017

on going



Dia Tak Kembali
Tidak sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku terpaku memandang selembar surat ditanganku. Kakiku lemah. Terjatuh ke sofa coklat di ruang depan rumah kami. Tetesan air mata mulai meninggalkan bekas dikertas yang ditujukan untukku itu. Mataku lelah. Sangat lelah. Dan akhirnya aku terlelap.

Tok tok tok..

Mataku terbuka mendengar suara ketukan pintu rumah kami. Aku berusaha mengangkat badanku untuk berjalan menghampiri sumber ketukan itu.

Tok tok tok
 “Mbak Kinan?”
“Iya sebentar.” Aku menjawab panggilan dari balik pintu.
“Bu Nunik. Ada apa bu pagi-pagi begini sudah mampir ke rumah?” Aku menyapanya sambil mengikat rambutku yang tergerai.
“Ini sudah siang mbak Kinan. Mbak Kinan lembur ya semalam?”
Mendengar ucapan tetanggaku itu, aku melihat ke arah jam dinding di dalam.
“Astaga! Maaf bu. Sepertinya semalam saya kelelahan.” Aku menebar senyum malu.

Bu Nunik adalah tetangga yang sangat baik. Dia sudah aku anggap seperti ibuku sendiri, karna usianya mungkin sebaya dengan ibuku.
Siang itu dia memberikan satu kotak besar. Katanya titipan dari seorang laki-laki yang tadi pagi datang ke rumahku. Laki-laki? Pikirku.
“Oh, terimakasih bu.”
“Mbak Kinan habis menangis?” Bu Nunik menyadari mataku yang sembab.
“Oh, ada kabar buruk semalam. Tapi bukan apa-apa bu.” Aku tersenyum.

Bu Nunik tak bertanya apapun. Dia membalas senyumku lalu melangkah pergi. Aku menutup pintu dan membawa kotak besar itu ke dalam. Ternyata kotak ini datang dari kantor kepolisian pusat. Lagi-lagi aku terdiam. Aku tak membukanya karna aku tahu benda apa yang ada di dalam kotak itu.
“Ini tidak benar. Mereka keliru. Ini tidak mungkin terjadi. Aku percaya pada ucapannya. Dan akan selalu percaya.” Aku berbicara sendiri dengan kegelisahanku.

Aku hendak membersihkan diri, membersihkan rumah seperti biasa setelah tiga bulan lalu kami tinggal disini. Rumah ini adalah rumah yang tak besar. Tapi aku suka. Aku merasa nyaman berada disini. Apalagi bersama dia yang tiga bulan lalu mengucap janji bersamaku.
Ponselku berdering. Aku melihat nama Kakak di layar ponselku.
“Iya Kak?” aku memulai percakapan.
Aku mendengar isak tangis darisana. Kakakku meminta aku bersabar. Dia menyuruhku pindah bersamanya.
“Kenapa Kinan harus pindah ka?” Aku menghapus air mata yang keluar dari sudut mataku.
“Kamu akan benar-benar sendiri disana Kinan. Tinggalah disini.”
Apa maksudnya? Benar-benar sendiri? Siapa yang sendiri? Aku tak merasa sendiri disini. Pikirku.
“Ka, sudah dulu ya. Nanti Kinan hubungi kakak lagi.” Aku menutup perbincangan dengannya. Entah apa yang aku rasakan dan aku pikirkan saat ini.

Aku membiarkan kotak besar itu tergeletak di atas meja tanpa ingin aku buka. Aku memutuskan untuk pergi keluar. Aku akan pergi ke satu tempat yang menjadi tempat favorit kami. Untuk merayakan tiga bulan pernikahan kami. Aku melangkah keluar dengan girangnya.
“Mbak Kinan, mau kemana?”
Aku menengok ke arah suara itu datang saat aku hendak membuka pintu mobil kami. Aku tersenyum, “pergi sebentar bu.”
“Hati-hati mbak Kinan.” Bu Nunik mengkhawatirkanku. Dia memang seperti ibuku. Selalu mengkhawatirkan anaknya saat hendak bepergian.

Mobil kami melaju dengan kecepatan sedang. Aku tak pernah mengemudikan mobil kami dengan kecepatan di atas 40 km/jam. Seketika aku teringat pesannya. Sebelum aku menikahimu, kamu sangat senang ngebut bukan? Setelah aku menikahimu, jangan pernah begitu lagi. Kamu harus menjaga perasaanku untuk tidak ingin terjadi apapun denganmu. Oke? Aku tersenyum mengingat kalimat itu. Namun seketika aku merasa ada tetesan air mengalir dari sudut mataku.

Sepanjang perjalanan, aku merasa risi dengan ponselku yang terus berdering. Tumben sekali ponselku sangat ramai memunculkan pesan demi pesan yang aku lihat berasal dari orang yang berbeda. Aku mengabaikannya. Aku tetap fokus dengan perjalananku.
Seketika aku teringat kembali pesannya saat kami pergi ke rumah sakit untuk kontrol kesehatan paru-parunya. Saat itu aku yang ambil kemudi. Mengingat kesehatannya yang sedikit tidak membaik. Aku mendapat banyak sekali pesan di ponselku saat itu. Aku hendak mengambil ponselku tapi tangannya sangat cepat meraih ponselku lebih dulu. Dia tersenyum. fokus nyetir! Kalau mau baca, berhenti dulu nyetirnya. Seketika aku luluh. Entah kenapa kalimatnya sangat lembut sekali ditelingaku.

Ingatan itu membuatku memutuskan untuk menghentikan kemudiku di bahu jalan. Aku terisak. Entah kenapa aku benar-benar sesak. Dadaku sakit. Air mataku mengalir begitu saja. Aku tak percaya dengan yang aku alami saat ini. Aku benar-benar tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi padaku. Apalagi dengan waktu yang sangat-sangat singkat bagiku.

Tak sengaja aku melihat papan iklan besar sekali disebrang jalan. Iklan itu memaparkan berita kematian seorang detektif dari kantor kepolisian pusat yang mayatnya ditemukan di hilir sungai setelah dua minggu lalu menghilang saat melakukan tugasnya. Aku melihatnya. Aku melihatnya terpampang dipapan iklan besar itu. Aku melihat senyum indahnya. Lagi-lagi napasku sesak. Dadaku terasa sangat sakit. tubuhku benar-benar lemas kali ini. Aku kehilangan kesadaranku.

Perlahan aku membuka kedua mataku. Aku melihat ke sekelilingku.
“Kak?” aku menangis. Entah kenapa sangat mudah sekali aku menangis.
“Mas Dian, Kak.” Mulutku bergetar. Kak Sinta mengusap kepalaku. Dia ikut menangis.
“Dian sudah tenang disana Ki.” Mas Lucky yang datang bersama Kak Sinta menasehatiku.
Aku terdiam. Aku memejamkan mata. Aku tak tertidur. Aku hanya mencoba menenangkan diriku. Saatku terpejam, kalimat-kalimat di selembar kertas yang ku baca semalam muncul di otakku. Kalimat itu menegaskan bahwa dia sungguh telah meninggal.
Tak terasa air mata keluar dari sudut mataku. Lagi-lagi aku terisak. Aku benar-benar menangisi kepergian Mas Dian. Suamiku tercinta, yang benar-benar pergi untuk selamanya.

2 komentar: