Dia Tak Kembali
Tidak
sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku terpaku memandang selembar surat
ditanganku. Kakiku lemah. Terjatuh ke sofa coklat di ruang depan rumah kami.
Tetesan air mata mulai meninggalkan bekas dikertas yang ditujukan untukku itu.
Mataku lelah. Sangat lelah. Dan akhirnya aku terlelap.
Tok
tok tok..
Mataku
terbuka mendengar suara ketukan pintu rumah kami. Aku berusaha mengangkat
badanku untuk berjalan menghampiri sumber ketukan itu.
Tok
tok tok
“Mbak
Kinan?”
“Iya
sebentar.” Aku menjawab panggilan dari balik pintu.
“Bu
Nunik. Ada apa bu pagi-pagi begini sudah mampir ke rumah?” Aku menyapanya
sambil mengikat rambutku yang tergerai.
“Ini
sudah siang mbak Kinan. Mbak Kinan lembur ya semalam?”
Mendengar
ucapan tetanggaku itu, aku melihat ke arah jam dinding di dalam.
“Astaga!
Maaf bu. Sepertinya semalam saya kelelahan.” Aku menebar senyum malu.
Bu
Nunik adalah tetangga yang sangat baik. Dia sudah aku anggap seperti ibuku
sendiri, karna usianya mungkin sebaya dengan ibuku.
Siang
itu dia memberikan satu kotak besar. Katanya titipan dari seorang laki-laki
yang tadi pagi datang ke rumahku. Laki-laki?
Pikirku.
“Oh,
terimakasih bu.”
“Mbak
Kinan habis menangis?” Bu Nunik menyadari mataku yang sembab.
“Oh,
ada kabar buruk semalam. Tapi bukan apa-apa bu.” Aku tersenyum.
Bu
Nunik tak bertanya apapun. Dia membalas senyumku lalu melangkah pergi. Aku
menutup pintu dan membawa kotak besar itu ke dalam. Ternyata kotak ini datang
dari kantor kepolisian pusat. Lagi-lagi aku terdiam. Aku tak membukanya karna
aku tahu benda apa yang ada di dalam kotak itu.
“Ini
tidak benar. Mereka keliru. Ini tidak mungkin terjadi. Aku percaya pada
ucapannya. Dan akan selalu percaya.” Aku berbicara sendiri dengan
kegelisahanku.
Aku
hendak membersihkan diri, membersihkan rumah seperti biasa setelah tiga bulan
lalu kami tinggal disini. Rumah ini adalah rumah yang tak besar. Tapi aku suka.
Aku merasa nyaman berada disini. Apalagi bersama dia yang tiga bulan lalu
mengucap janji bersamaku.
Ponselku
berdering. Aku melihat nama Kakak di layar ponselku.
“Iya
Kak?” aku memulai percakapan.
Aku
mendengar isak tangis darisana. Kakakku meminta aku bersabar. Dia menyuruhku
pindah bersamanya.
“Kenapa
Kinan harus pindah ka?” Aku menghapus air mata yang keluar dari sudut mataku.
“Kamu
akan benar-benar sendiri disana Kinan. Tinggalah disini.”
Apa maksudnya? Benar-benar sendiri?
Siapa yang sendiri? Aku tak merasa sendiri disini.
Pikirku.
“Ka,
sudah dulu ya. Nanti Kinan hubungi kakak lagi.” Aku menutup perbincangan
dengannya. Entah apa yang aku rasakan dan aku pikirkan saat ini.
Aku
membiarkan kotak besar itu tergeletak di atas meja tanpa ingin aku buka. Aku
memutuskan untuk pergi keluar. Aku akan pergi ke satu tempat yang menjadi
tempat favorit kami. Untuk merayakan tiga bulan pernikahan kami. Aku melangkah keluar
dengan girangnya.
“Mbak
Kinan, mau kemana?”
Aku
menengok ke arah suara itu datang saat aku hendak membuka pintu mobil kami. Aku
tersenyum, “pergi sebentar bu.”
“Hati-hati
mbak Kinan.” Bu Nunik mengkhawatirkanku. Dia memang seperti ibuku. Selalu
mengkhawatirkan anaknya saat hendak bepergian.
Mobil
kami melaju dengan kecepatan sedang. Aku tak pernah mengemudikan mobil kami
dengan kecepatan di atas 40 km/jam. Seketika aku teringat pesannya. Sebelum aku menikahimu, kamu sangat senang ngebut
bukan? Setelah aku menikahimu, jangan pernah begitu lagi. Kamu harus menjaga
perasaanku untuk tidak ingin terjadi apapun denganmu. Oke? Aku tersenyum
mengingat kalimat itu. Namun seketika aku merasa ada tetesan air mengalir dari
sudut mataku.
Sepanjang
perjalanan, aku merasa risi dengan ponselku yang terus berdering. Tumben sekali
ponselku sangat ramai memunculkan pesan demi pesan yang aku lihat berasal dari
orang yang berbeda. Aku mengabaikannya. Aku tetap fokus dengan perjalananku.
Seketika
aku teringat kembali pesannya saat kami pergi ke rumah sakit untuk kontrol
kesehatan paru-parunya. Saat itu aku yang ambil kemudi. Mengingat kesehatannya
yang sedikit tidak membaik. Aku mendapat banyak sekali pesan di ponselku saat
itu. Aku hendak mengambil ponselku tapi tangannya sangat cepat meraih ponselku
lebih dulu. Dia tersenyum. fokus nyetir!
Kalau mau baca, berhenti dulu nyetirnya. Seketika aku luluh. Entah kenapa
kalimatnya sangat lembut sekali ditelingaku.
Ingatan
itu membuatku memutuskan untuk menghentikan kemudiku di bahu jalan. Aku
terisak. Entah kenapa aku benar-benar sesak. Dadaku sakit. Air mataku mengalir
begitu saja. Aku tak percaya dengan yang aku alami saat ini. Aku benar-benar
tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi padaku. Apalagi dengan waktu yang
sangat-sangat singkat bagiku.
Tak
sengaja aku melihat papan iklan besar sekali disebrang jalan. Iklan itu
memaparkan berita kematian seorang detektif dari kantor kepolisian pusat yang
mayatnya ditemukan di hilir sungai setelah dua minggu lalu menghilang saat
melakukan tugasnya. Aku melihatnya. Aku melihatnya terpampang dipapan iklan
besar itu. Aku melihat senyum indahnya. Lagi-lagi napasku sesak. Dadaku terasa
sangat sakit. tubuhku benar-benar lemas kali ini. Aku kehilangan kesadaranku.
Perlahan
aku membuka kedua mataku. Aku melihat ke sekelilingku.
“Kak?”
aku menangis. Entah kenapa sangat mudah sekali aku menangis.
“Mas
Dian, Kak.” Mulutku bergetar. Kak Sinta mengusap kepalaku. Dia ikut menangis.
“Dian
sudah tenang disana Ki.” Mas Lucky yang datang bersama Kak Sinta menasehatiku.
Aku
terdiam. Aku memejamkan mata. Aku tak tertidur. Aku hanya mencoba menenangkan
diriku. Saatku terpejam, kalimat-kalimat di selembar kertas yang ku baca
semalam muncul di otakku. Kalimat itu menegaskan bahwa dia sungguh telah meninggal.
Tak
terasa air mata keluar dari sudut mataku. Lagi-lagi aku terisak. Aku
benar-benar menangisi kepergian Mas Dian. Suamiku tercinta, yang benar-benar
pergi untuk selamanya.
wah bagus juga ceritanya..
BalasHapushehe terima kasih
BalasHapus